Saturday, February 11, 2017

Haji Sunnah dalam Pespektif Sosial Kemasyarakatan

Artinya : Telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Katsir Abu Dawud Al Wasithi] berkata; aku telah mendengar [Ibnu Syihab] menceritakan dari [Abu Sinan] dari [Ibnu Abbas], ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khutbah kepada kami, beliau bersabda: "Wahai manusia, telah diwajibkan haji atas kalian." Ia Ibnu Abbas berkata; Lalu Al Aqra' bin Habis berdiri dan berkata; "Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "Seandainya aku katakan (ya), niscaya akan menjadi wajib (setiap tahun), dan bila itu diwajibkan, kalian tidak akan melakukannya dan tidak mampu melaksanakannya. Haji itu hanya sekali, barangsiapa yang menambah, maka itu adalah tathawwu' (amalan sunnah)."
 
Hadis Ahmad no. 2510 :
 
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ أَبُو دَاوُدَ الْوَاسِطِيُّ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ شِهَابٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سِنَانٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُتِبَ عَلَيْكُمْ الْحَجُّ قَالَ فَقَامَ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ فَقَالَ أَفِي كُلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ لَوْ قُلْتُهَا لَوَجَبَتْ وَلَوْ وَجَبَتْ لَمْ تَعْمَلُوا بِهَا وَلَمْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْمَلُوا بِهَا الْحَجُّ مَرَّةٌ فَمَنْ زَادَ فَهُوَ تَطَوُّعٌ
Haji merupakan suatu kewajiban yang dikenakan bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat ketentuan wajib haji. Syarat wajib haji tersebut, diantaranya yaitu mampu, yang dalam hal ini mampu itu bukan hanya didasarkan pada unsur fisik saja namun juga unsur finansial. Perlu disadari bahwa di kalangan umat Islam sendiri masih banyak terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial yang perlu dibenahi.
Mirisnya, ketika saat ini orang-orang sudah mulai berperilaku kapitalis secara tidak sadar sehingga mereka lebih mementingkan modal sebagai ukuran. Termasuk bentuk dari kapitalisme, khususnya dalam kehidupan umat Islam ini adalah keinginan masyarakat melakukan ibadah haji sunnah berkali-kali dan bahkan ada yang melakukannya setiap tahun. Maka kualitas jamaah haji pun perlu dipertanyakan dalam hal  ini.

Meskipun haji diwajibkan pada tahun ke-6 H, namun Rasulullah baru melaksanakannya pada tahun ke-10 H karena haji ini dilakukan menjelang wafatnya Nabi dan setelah Nabi Muhammad tidak akan pernah menunaikan haji kembali. Haji tersebut dianggap sebagai haji perpisahan (Haji Wada’). Padahal Nabi memiliki kesempatan untuk menjalankan ibadah haji pada tahun ke-7, 8, dan 9 H. Setelah kembali dari ekspedisi Tabuk pada tahun 8  H, Nabi justru memerintahkan Abu Bakar untuk berhaji. Beliau sendiri tidak berangkat, padahal beliau tidak sedang disibukkan dengan apapun.

Nabi sendiri telah memberikan teladan, beliau hanya berhaji sekali dalam seumur hidup meskipun sebenarnya beliau mampu melaksanakannya sebanyak 3 kali. Begitupun halnya dengan ibadah umroh, beliau memberikan contoh untuk tidak berlebihan sekalipun dalam hal baik. Karena barangkali hal baik tersebut malah akan menimbulkan mudharat ketika dilakukan berlebihan. Nabi lebih banyak melakukan ibadah-ibadah sosial kemasyarakatan daripada ibadah personal. Kemaslahatan ibadah sosial lebih qathi’ dibanding ibadah muta’ashirah (ibadah personal). Kemudian dalam hadis Qudsi juga disebutkan bahwa Allah akan menjumpai hamba-Nya dalam keadaaan sakit dan sulit. Jadi melakukan ibadah haji sunnah tidak dibenarkan apalagi jika dilakukan secara terus-menerus. Bahkan hal itu dapat merubah dari yang asal hukumnya sunnah menjadi haram ketika dilakukan dalam keadaan yang tidak semestinya.
Baca Juga Artikel Tentang:
Anjuran Silaturahmi Dalam Islam

Saya Adalah Hamba Allah yang senantiasa berlindung kepada Allah menjahui segala laranganya dan menjalankan segala perintahnya.


EmoticonEmoticon