Saturday, February 11, 2017

Makalah Hadis al-Ahruf As-Sabah

Bab 1 Pendahuluan. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang terdapat di dalamnya sumber-sumber hukum Islam. Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW agar disampaikan kepada orang Arab saat itu dan seluruh umat manusia. Sebagaimana yang kita ketahui dalam sejarah, bahwa orang-orang Arab mempunyai aneka macam lahjah (dialek) yang timbul dari fitrah mereka. Setiap kabilah atau suku mempunyai mempunyai ciri khas tersendiri dalam mengucapkan kata-kata yang tidak dimiliki oleh kabilah lainnya. Sehingga al-Qur'an diturunkan dengan menyesuaikan dialek masing-masing suku yang besar atau yang lebih identik dengan 7 kabilah.
            Al-ahruf al-sab’ah merupakan salah satu cabang pembahasan ilmu al-Quran. Keberadaannya yang sangat urgen dalam sejarah al-Quran mendorong banyak sarjana baik dari kalangan umat Islam maupun Orientalis untuk mempelajari dan membahas hakikat dari al-Ahruf al-Sab’ah itu. Sudah banyak pendapat yang dilontarkan oleh para ulama tentang maksud dari beberapa riwayat al-Ahruf al-Sab’ah seperti yang dikatakan imam Suyuthi bahwa perbedaan ini mencapai hingga sekitar empat puluh pendapat. Sedang menurut Ibnu Hibban perselisihan pendapat yang terjadi dikalangan ulama klasik terdapat sekitar tiga puluh pendapat yang berbeda.
Perbedaan-perbedaan itu memberikan ilustrasi kepada kita bahwa alangkah sulit dan bahayanya pembahasan al-Ahruf al-Sab’ah ini. Kita katakan bahaya karena kesalahan pahaman  pembahasan dalam masalah ini bisa berakibat fatal terhadap al-Quran itu sendiri, bahkan hal tersebut bisa dijadikan bumerang oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan dasar utama umat Islam itu. Oleh karenanya tidak berlebihan kalau sekiranya Imam Zarqoni berkata:”… pembahasan ini mengerikan dan rumit, karena bisa memunculkan  bermacam-macam pendapat, sehingga terpetik dihati sebagian ulama bahwa pembahasan al-Ahruf al-Sab’ah termasuk permasalahan yang sangat sulit untuk bisa difahami (baca: musykil), dan kesalahan dalam permasalahan ini bisa membuka pintu bagi musuh-musuh islam untuk melontarkan tuduhan-tuduhan negatif terhadap al-Quran”. begitu pula statemen Ibnu al-Arabi sebagaimana diceritakan oleh Imam al-Zarkasi dalam karyanya al-Burhan: Bahwa tidak di temukan dalil, baik dari nash maupun atsar yang menjelaskan tentang pengertian al-Ahruf al-Sab’ah itu
            Namun karena didasari keinginan untuk mengetahui lebih jauh dan kewajiban sebagai seorang akadamis, kita harus memberanikan diri dalam kajian-kajian seperti itu, walaupun nantinya terdapat beberapa kesalahan, karena dari kesalahan itulah kita mungkin akan mendapatkan seberkas sinar kebenaran.
BAB II
PEMBAHASAN
     A.    Pengertian Sab’ah Ahruf
Hadis mengenai sab’ah ahruf ini biasanya hanya dijelaskan secara singkat saja, padahal sebenarnya keberadaan hadis ini sangat rumit dalam sejarah Al Qur’an.  Jika diambil sikap tegas terhadap hadis ini, maka akan berimplikasi pada bacaan Al Qur’an secara global dan rinci. Maksudnya bahwa pengambilan sikap tegas ini akan menyelesaikan masalah yang paling rumit dalam sejarah Al Qur’an terutama masalah bacaan syadz dari berbagai aspeknya, riwayat, bahasa dan matannya.
Bentuk hadis tentang “tujuh huruf” dapat dibagi menjadi tiga bentuk :
      a)      Hadis dalam bentuk kisah yang menggambarkan tentang perbedaan bacaan diantara dua orang sahabat, kemudian mereka pergi menemui Nabi menanyakan dan meminta penjelasan akan hal tersebut. Beliau membolehkan semua bacaan mereka dan menginformasikan bahwa semua bacaan itu benar.
        b)      Hadis dalam bentuk perintah dari Jibril dalam konteks dialog antara Nabi dengan malaikat Jibril yang terkadang pula ada keikutsertaan malaikat Mikail.
       c)      Hadis dalam bentuk pemberitahuan dari Nabi mengenai bacaan tertentu atau turunnya Al Qur’an dengan tujuh huruf.
Hadis mengenai turunnya Al Qur’an dengan tujuh huruf memiliki banyak riwayat. Dari riwayat-riwayat tersebut, diantaranya banyak redaksi yang mencapai derajat shahih, dhaif dan adapula yang memiliki derajat diantara keduanya.
نزول القرآن على سبعة احروف
Pada hadis tersebut terdapat kata sab’ah dan juga ahruf, yang keduanya memiliki makna yang perlu ditinjau kembali. Oleh karena itu,berikut penjelasan mengenai makna kata   sab’ah dan juga ahruf.
1.    Makna kata sab’ah.
a.         Makna haqiqi : makna haqiqi ialah makna yang menunjukan makna asli dari kata tersebut yakni tujuh atau bisa disebut dalam hitungan yakni bilangan antara enam dan delapan.
سَيَقُولُونَ ثَلاثَةٌ رَابِعُهُمْ كَلْبُهُمْ وَيَقُولُونَ خَمْسَةٌ سَادِسُهُمْ كَلْبُهُمْ رَجْمًا بِالْغَيْبِ وَيَقُولُونَ سَبْعَةٌ وَثَامِنُهُمْ كَلْبُهُمْ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ بِعِدَّتِهِمْ مَا يَعْلَمُهُمْ إِلا قَلِيلٌ فَلا تُمَارِ فِيهِمْ إِلا مِرَاءً ظَاهِرًا وَلا تَسْتَفْتِ فِيهِمْ مِنْهُمْ أَحَدًا

Artinya : “ Nanti (ada orang yang akan) mengatakan “(Jumlah mereka) tiga orang, yang keempat adalah anjingnya,” dan (yang lain) mengatakan, "(Jumlah mereka) lima orang, yang keenam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan, "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah (Muhammad), "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah engkau (Muhammad) berbantah tentang hal mereka, kecuali perbantahan lahir saja dan jangan engkau menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada siapa pun.”
b.      Makna mubalaghah
Makna ini terkait akan majaz dari kata sab’ah.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya : “Perumpamaan orang yang meninfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.”
2.      Makna kata Ahruf
Kata ahruf merupakan jamak dari kata hurf, yang secara harfiah berarti huruf ataupun kata seperti redaksi.
 هذا الحرف ليس فى القاموس
Sedangkan secara tafsiri,lafadh ini memilki makna yang luas diantaranya:
a)      Dialektika
Contoh : حرف قريش و حرف ثقيف اي لغتهما
b)      Sisi samping
Contoh : فجاء عصفور فوقع على حرف السفينة
c)      Macam dari beberapa ragam qira’at
Contoh : حرف ابن مسعود اي قرأته
d)     Makna dari beberapa makna
 Contoh : و من الناس من يعبد الله على حرف
    
        B.     Hadis tentang Sab’ah Ahruf
Terdapat banyak riwayat yang menunjukkan dan menyatakan bahwa al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf. Menurut Imam Suyuthi, dalam kitab al-Itqan fi Ulum al-Qur'an, ada 21 orang sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut. Beberapa diantara hadis tersebut yaitu :
1.      Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu ‘Abbas
حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنِ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ حَدَّ ثَنِي عُقَيْلٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّ ثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنِ عَبْدُ اللَّهِ اَنَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ عَبّاَسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا حَدَّ ثَهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهُ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَأَنَي جِبْرِيْلُ عَلَى حَرْفٍ فَرَا جَعْتُهُ فَلَمْ أَزَلْ أَسْتَزِيْدُ وَيَزِيْدُنِي حَتَّى انْتَهَى إِلَى ٍَبْعَةِ أَحْرُوْفٍ
           
 “Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Ufair ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Al Laits ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Uqail dari Ibnu Syihab ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bahwa Abdullah bin Abbas radliallahu 'anhuma telah menceritakan kepadanya bahwa; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jibril telah membacakan padaku dengan satu dialek, maka aku pun kembali kepadanya untuk meminta agar ditambahkan, begitu berulang-ulang hingga berakhirlah dengan Sab'atu Ahruf (Tujuh dialek yang berbeda).”
2.      Riwayat Muslim dari Ubay bin Ka’ab
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عِنْدَ أَضَاةِ بَنِي غِفَارٍ قَالَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفٍ فَقَالَ أَسْأَلُ اللَّهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ وَإِنَّ أُمَّتِي لَا تُطِيقُ ذَلِكَ ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفَيْنِ فَقَالَ أَسْأَلُ اللَّهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ وَإِنَّ أُمَّتِي لَا تُطِيقُ ذَلِكَ ثُمَّ جَاءَهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْرُفٍ فَقَالَ أَسْأَلُ اللَّهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ وَإِنَّ أُمَّتِي لَا تُطِيقُ ذَلِكَ ثُمَّ جَاءَهُ الرَّابِعَةَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَأَيُّمَا حَرْفٍ قَرَءُوا عَلَيْهِ فَقَدْ أَصَابُوا   
           
            “Dari Ubay bin Ka'ab bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di kolam air Bani Ghifar. Kemudian beliau didatangi Jibril 'Alaihis salam seraya berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al Qur`an kepada umatmu dengan satu huruf (lahjah bacaan)." Beliau pun bersabda: "Saya memohon kasih sayang dan ampunan-Nya, sesungguhnya umatku tidak akan mampu akan hal itu." kemudian Jibril datang untuk kedua kalinya dan berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al Qur`an kepada umatmu dengan dua huruf." Beliau pun bersabda: "Saya memohon kasih sayang dan ampunan-Nya, sesungguhnya umatku tidak akan mampu akan hal itu." Lalu Jibril mendatanginya untuk ketiga kalinya seraya berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al Qur`an kepada umatmu dengan tiga huruf." Beliau bersabda "Saya memohon kasih sayang dan ampunan-Nya, sesungguhnya umatku tidak akan mampu akan hal itu." Kemudian Jibril datang untuk yang keempat kalinya dan berkata, "Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk membacakan Al Qur`an kepada umatmu dengan tujuh huruf. Dengan huruf yang manapun yang mereka gunakan untuk membaca, maka bacaan mereka benar.”
3.      Riwayat Tirmidzi dari Ubay bin Ka’ab
عَنْ أُبِيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ لَقِيَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِبْرِيْلَ فَقَالَ يَا جِبْريْلُ إِنّى بُعْثْتَ إِلَى أُمَّةٍ أُمِّيِّيْنَ مِنْهُمْ الْعَجُوْزَ وَالشَيْخُ الْكَبِيْرُ والْغُلاَمُ والْجَارِيَةُ وَالرَّجُلُ الَّذِي لَمْ يَقْرَأ كِتَابًا قَطًّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى  سَبْعَةِ أَحْرُوْفٍ  
           
 “Dari Ubay bin Ka'ab ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menemui Jibril, lalu beliau bersabda; "Wahai Jibril, sesungguhnya aku diutus untuk ummat yang buta huruf, di antara mereka ada yang lemah, tua, renta, anak kecil lelaki dan perempuan dan orang yang sama sekali tidak bisa membaca." Jibril berkata; "Wahai Muhammad, sesungguhnya al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf.”
4.      Riwayat Bukhari dari Umar bin Khattab
عُمَرَ بْنِ الخَطَّابُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفُرْقَانِ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَمَعْتُ 
لِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا هُوَ يَقْرَأُ عَلَى حُرُوفٍ كَثِيرَةٍ لَمْ يُقْرِئْنِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكِدْتُ أُسَاوِرُهُ فِي الصَّلَاةِ فَتَصَبَّرْتُ حَتَّى سَلَّمَ فَلَبَّبْتُهُ بِرِدَائِهِ فَقُلْتُ مَنْ أَقْرَأَكَ هَذِهِ السُّورَةَ الَّتِي سَمِعْتُكَ تَقْرَأُ قَالَ أَقْرَأَنِيهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ كَذَبْتَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَقْرَأَنِيهَا عَلَى غَيْرِ مَا قَرَأْتَ فَانْطَلَقْتُ بِهِ أَقُودُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ هَذَا يَقْرَأُ بِسُورَةِ الْفُرْقَانِ عَلَى حُرُوفٍ لَمْ تُقْرِئْنِيهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسِلْهُ اقْرَأْ يَا هِشَامُ فَقَرَأَ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةَ الَّتِي سَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَلِكَ أُنْزِلَتْ ثُمَّ قَالَ اقْرَأْ يَا عُمَرُ فَقَرَأْتُ الْقِرَاءَةَ الَّتِي أَقْرَأَنِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَلِكَ أُنْزِلَتْ إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ
           
 “Umar bin Al Khaththab berkata, "Aku pernah mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam sedang membaca surat Al Furqan di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku pun mendengarkan bacaannya dengan seksama. Maka, ternyata ia membacakan dengan huruf yang banyak yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam belum pernah membacakannya seperti itu padaku. Maka aku hampir saja mencekiknya saat shalat, namun aku pun bersabar menunggu sampai ia selesai salam. Setelah itu, aku langsung meninting lengan bajunya seraya bertanya, "Siapa yang membacakan surat ini yang telah aku dengan ini kepadamu?" Ia menjawab, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang telah membacakannya padaku." Aku katakan, "Kamu telah berdusta. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah membacakannya padaku, namun tidak sebagaimana apa yang engkau baca." Maka aku pun segera menuntunnya untuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Selanjutnya, kukatakan kepada beliau, "Sesungguhnya aku mendengar orang ini membaca surat Al Furqan dengan huruf (dialek bacaan) yang belum pernah Anda bacakan kepadaku." Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Bacalah wahai Hisyam." Lalu ia pun membaca dengan bacaan yang telah aku dengar sebelumnya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Begitulah ia diturunkan." Kemudian beliau bersabda: "Bacalah wahai Umar." Maka aku pun membaca dengan bacaan sebagaimana yang dibacakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepadaku. Setelah itu, beliau bersabda: "Seperti itulah surat itu diturunkan. Sesungguhnya Al Qur`an ini diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh dialek bacaan). Maka bacalah ia, sesuai dengan dialek bacaan yang kalian bisa.”
            Dari hadis-hadis di atas, dapat dipahami bahwa proses diturunkannya al-Qur'an dalam 7 huruf itu tidaklah langsung, hal ini karena keringanan yang diminta oleh Nabi kepada Allah, sebab Nabi sangat menyadari bahwa umatnya banyak yang tidak bisa baca tulis. Selain itu, ini juga merupakan rahmat bagi umat Nabi Muhammad SAW yang tidak ada pada nabi-nabi sebelumnya.
            Keringanan tersebut sangat sesuai dengan kondisi umat yang heterogen. Mereka terdiri atas berbagai suku, dan masing-masing suku mempunyai dialek yang berbeda-beda, yang sulit bagi suku lain untuk menirunya. Hal ini juga diharapkan agar mereka lebih tertarik dengan Islam dan merasakan bahwa Islam itu benar-benar diturunkan untuk membimbing mereka
      
      C.    Pendapat-pendapat Ulama mengenai makna Sab’ah Ahruf
Para ulama berbeda pendapat dalam memahami makna Sab’ah Ahruf. Menurut al-Qurthubi, ada 35 perbedaan pendapat ulama mengenai makna Sab’ah Ahruf yang disebutkan oleh Abu Hatim Muhammad bin Hibban Di antara pendapat-pendapat tersebut yaitu : 
a.         Ulama berpendapat bahwa yang dimaksud  Sab’ah Ahruf adalah tujuh bahasa yang terkenal di kalangan bangsa Arab, tetapi maknanya tetap sama. Tujuh bahasa tersebut adalah Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman. Pendapat ini dikutip oleh al-Qadhi Abu Bakar. Al-Azhari menganggap bahwa pendapat seperti ini adalah pendapat yang terpilih,ia berpendapat dengan dasar perkataan Usman ketika memerintahkan untuk penulisan mushaf.
وما اختلفتم انتم وزيد فاكتبوه بلغة قريش فإنه اكثر ما نزل بلسانهم

b.         Lafadz-lafadz dalam al-Qur'an tidak terlepas dari tujuh bahasa yang terkenal di kalangan bangsa Arab, dan bahasa yang lebih dominan adalah bahasa Quraisy.
c.         Yang dimaksud Sab’ah Ahruf adalah dalam al-Qur'an terdapat 7 aspek hukum yaitu berupa perintah, larangan, halal, haram, muhkam, mutasyabih, dan amtsal. Ini menurut Ibnu Mas’ud.
d.        Maksudnya adalah 7 hal yang didalamnya terjadi perbedaan, yaitu, perbedaan kata benda, perbedaan dari segi I’rab, perbedaan dalam tasrif, perbedaan nuqsan dan ziyadah, taqdim dan ta’khir, tabdil, dan lahjah (dialek).
e.         Sebagian ulama menyatakan bahwa hadis Sab’ah Ahruf tidak diartikan sebagai bilangan tertentu, tetapi menunjukkan arti banyak.
f.          Pendapat lain mengatakan bahwa maksudnya adalah qiraat yang berlaku pada masa Nabi. Pendapat seperti ini menurut as-Suyuthi merupakan pendapat orang bodoh. Khalil bin ahmad berpendapat bahwa yang dimaksud hadis Sab’ah Ahruf  adalah 7 qiraah. Akan tetapi, ini pendapat yang lemah.
Dari berbagai pendapat di atas, pendapat yang terkuat adalah pendapat pertama yang mengatakan bahwa maksud Sab’ah Ahruf adalah 7 macam bahasa dari bahasa Arab dalam mengungkapkan makna yang sama
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Hadis mengenai turunnya Al Qur’an dengan tujuh huruf memiliki banyak riwayat. Dari riwayat-riwayat tersebut, diantaranya ada hadis yang mencapai derajat shahih ataupun dhaif. Terlepas dari perbedaan kualitas tersebut, yang lebih menjadi fokus kajian adalah apa makna dari sab’ah ahruf sendiri. Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan sab’ah ahruf itu, ada yang mengatakan maksudnya adalah 7 dialek bahasa Arab (ini pendapat paling banyak) yaitu bahasa Quraisy, Huzail, Saqif, Hawazin, Kinanah, Tamim, dan Yaman; ada yang mengatakan maknanya 7 aspek hukum; ada juga yang berpendapat maksudnya adalah 7 qiraat; dan banyak pendapat-pendapat yang lain.
Dari hadis-hadis yang ditemukan, kami lebih cenderung kepada pendapat yang mengatakan bahwa maksud dari sab’ah ahruf adalah 7 dialek di kalangan bangsa Arab, dan bukan bermakna qira’at. Karena, jika dimaknai qiraat, qiraat yang ada tidak hanya 7 qiraat, tetapi juga ada qiraah ‘asyarah, bahkan lebih dari itu.  
Baca Juga Artikel Tentang:
Haji Sunnah Dalam Perspektif Kemasyarakatan 
Sumber : Makalah Kelompok Tajwid dan Qiraat IAT'14 UINSUKA

Saya Adalah Hamba Allah yang senantiasa berlindung kepada Allah menjahui segala laranganya dan menjalankan segala perintahnya.


EmoticonEmoticon