Saturday, February 11, 2017

Makalah Hadis tentang Etika terhadap Pemimpin

A.Pendahuluan.Etika merupakan hal yang penting dalam berkehidupan.  Sebuah etika wajib diterapkan bagi tiap individu manusiawi supaya terciptanya sebuah keseja teraan. Etika terhadap pemimpin salah satunya. Pemimpin merupakan orang yang kita anggap mampu dan lebih baik dari kita. Ketika seorang seseorang telah menjadi pemimpin bagi kita maka kita wajib menaatinya. Dewasa ini, banyak masyarakat yang melakukan aksi demo terhadap ketidak puasannya terhadap pemimpinnya. Aksi demo mereka lakukan sebagai bentuk apresiasi masyarakat terhadap pemimpinnya. Apresiasi tersebut menunjukkan rasa ketidakpuasannya terhadap pemimpinnya. Hal seperti ini seolah menunjukkan ketidak taatannya dan tidak adanya etika terhadap pemimpin. Oleh karena itu, penulis mencoba memaparkan bagaimana seharusnya etika seorang masyarakat (rakyat) terhadap pemimipin dengan mengacu kepada suatu hadis.  
  1. Pembahasan
1.         Hadis dan Terjemah
Kewajiban Rakyat Taat kepada Pemerintah kecuali dalam Hal Maksiat
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِى نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - . وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ صَبَّاحٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Telah bercerita kepada kami Musaddad, telah bercerita kepada kami Yahya dari ‘Ubaidillah  berkata telah bercerita kepadaku Nafi’ dari Ibnu ‘Umar ra. Dari Nabi SAW. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepadaku Muhammad bin Shobah, telah bercerita kepada kami Isma’il bin Zakariya dari ‘Ubaidillah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar ra dari Nabi SAW.  bersabda: “mendengar dan taat adalah haq (kewajiban) selama tidak diperintah berbuat maksiat. Apabila diperintah berbuat maksiat maka tidak ada (kewajiban) untuk mendengar dan taat”. 
2.      Kritik Matan
a.       Analisis Kebahasaan
Dalam kamus Bahasa Arab Munawir kata أمر  berasal dari kata أمر يأمر أمرا  yang mempunyai arti perintah.Sedangkan dalam kitab Lisanul ‘Arab kata أمر ditujukan kepada suatu hal yang bersifat ma’ruf, yang menunjukkan adanya sebuah larangan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata أمر mempunyai arti perintah yang berarti sebuah perintah yang baik.
b.      Tidak bertentangan dengan al-Qur’an
QS. al-Nisa’ [4]: 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS. al-Nisa’ [4]: 59)
Ayat ini turun ketika Abdullah bin Hudzafah bin Qais beserta satu pasukan diutus Nabi Muhammad SAW. Ketika itu terjadi kesalahan yang merupakan sebuah kebohongan yang dinisbatkan oleh Ibnu Abbas. Al-dawudi yang mengetahui masalah tersebut sangat marah bahkan hendak memulai perang. Namun, sebagian pasukan al-Dawudi tidak ingin melakukannya, dan sebagian yang lain ingin melakukannya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan mengenai ayat ini “kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu….” Yakni ketika terjadi perselisihan ketika hendak melaksanakan perintah atau tidak melaksanakannya lantaran tidak ingin adanya peperangan, maka yang mereka perselisihkan hendaknya mengembalikannya kepada Allah dan Rasulullah.
Ayat di atas menjelaskan bahwa adanya perintah taat kepada Allah, taat kepada rasul-Nya, dan ulil Amri atau pemerintah. Secara tekstual ayat ini menjelaskan adanya suatu kewajiban untuk mendengarkan dan mentaati perintah pemimpin. Namun hal ini dibatasi dengan adanya hadis yang menjelaskan tentang larangan mengikuti perintanhnya jika perintahnya berupa maksiat. Sebagaimana hadis di atas, yaitu: 
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa taat terhadap perintah merupakan hal yang wajib. Akan tetapi jika perintah tersebut merupakan suatu hal yang dianggap maksiat waka tidak wajib bagi kita untuk melakukan perintah tersebut.
c.    Tidak bertentangan dengan hadis lain
1.      حدّثنا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ . حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ عُبَيْدِ اللّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: «عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ. فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ . إلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ. فَإنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

2.      حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِى نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ 

Kedua hadis di atas menjelaskan bahwa adanya keawajiban  taat terhadap perintah yang diberikan oleh pemimpin. Namun dalam hal ini juga dibatasi dengan tidak adanya perintah yang termasuk dalam hal maksiat.  Jika perintah tersebut termasuk dalam maksiat maka sebagai rakyat atau umat tidak wajib menjalankan perintah tersebut.                       
3.      Kontekstualisasi Hadis
Berdasarkan hadis di atas, sejak zaman Nabi, nabi telah mengajarkan kepad kita untuk mendengarkan dan taat terhadap pemimpin. Ketika seorang pemimpin memerintahkan sesuatu kepada rakyatnya maka sebagai seorang rakyat harus menjalakan perintahnya. Namun perintah itu tidaklah mutlak, jika perintah itu termasuk dalam maksiat maka tidak wajib bagi rakyat untuk menjalankan perintah tersebut.
Dewasa ini, masalah seperti ini bisa dikaitkan dengan adanya pemimpin yang non muslim dan bagaimana batasan ketaatan kita terhadap pemimpin non muslim. Sebagaimana di Indonesia yang terdiri dari berbagai macam agama. Baik non muslim ataupun muslim ia berhak menjadi pemimpin. Ketika suatu pemerintahan dipimpin oleh pemimpin yang non muslim kita juga wajib mentaatinya, karena ia adalah pemimpin kita. Jika pemimpin non muslim tersebut mengajak untuk mengikuti ajarannya atau ia menyuruh kepada hal-hal yang termasuk dalam kemaksiatan maka kita berhak untuk menolak ajakannya. Akan tetapi, jika pemimpin tersebut tidak mengajak rakyatnya untuk mengikuti ajarannya ataupun tidak mengajak kepada hal kemaksiatan maka kita wajib mengikuti perintahnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketaatan seorang rakyat hanya terbatas pada hal kebaikan. 
  1. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, baik dari al-Qur’an ataupun hadis, salah satu etika yang harus dilakukan oleh seorang rakyat yaitu taat terhadap pemimpinnya. Apapun yang diperintahkan pemimpinnya seorang rakyat harus megikutinya. Namun, ketaatan ini hanya berbatasa kepada hal-hal kebaikan, jika perintah tersebut termasuk dalam hal kemaksiatan maka seorang rakyat tidak wajib mengikutinya. Di sisi lain seorang pemimpin juga harus memperhatikan dan memahami kepentingan seorang rakyat agar tercapainya negara yang harmonis, makmur, dan sejahtera. 
Baca Juga Artikel Tentang:
Ayat Al-Qur'an Tentang Hijrah Di Jalan Allah
Sumber : Makalah Hadis Sosial IAT'14 UINSUKA

Saya Adalah Hamba Allah yang senantiasa berlindung kepada Allah menjahui segala laranganya dan menjalankan segala perintahnya.


EmoticonEmoticon