Saturday, February 11, 2017

Makalah Hadits tentang Etika Terhadap Mayit

A.Pendahuluan.Manusia sebagai makhluk sosial, makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Antara seseorang dengan orang lain tentu saling membutuhkan dan dari situ timbul kesadaran untuk saling membantu dan tolong-menolong. Tidak mungkin seseorang dapat bertahan hidup sendirian tanpa bantuan dari pihak lain.Tolong menolong merupakan suatu kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh sesama muslim sesuai kemampuan mereka menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan tersebut. Tidak hanya orang yang masih hidup saja yang membutuhkan pertolongan, bahkan orang yang telah meninggalpun membutuhkan pertolongan agar dapat diurus jenazahnya dengan baik. Dalam hadis disebutkan bahwa terdapat 5 hak yang harus ditunaikan oleh seorang muslim terhadap muslim yang lain yaitu menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan juga mendoakan orang yang bersin. Namun, dalam makalah ini penulis lebih spesifik akan mencoba untuk memaparkan bagaimana etika atau adab terhadap jenazah serta menyertakan ayat al-Qur’an dan hadisnya dan bagaimana relevansi hadis ini dengan realitas yang ada sekarang.
B.     Pembahasan
1.      Hadis dan Terjemahnya
Hadis tentang perintah mengantarkan jenazah
[1324] حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ، حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، قَالَ: سَمِعْتُ نَافِعًا، يَقُولُ: حُدِّثَ ابْنُ عُمَرَ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، يَقُولُ: مَنْ تَبِعَ جَنَازَةً فَلَهُ قِيرَاطٌ، فَقَالَ: أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَلَيْنَا فَصَدَّقَتْ يَعْنِي عَائِشَةَ أَبَا هُرَيْرَةَ وَقَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُهُ "، فَقَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: لَقَدْ فَرَّطْنَا فِي قَرَارِيطَ كَثِيرَةٍ فَرَّطْتُ ضَيَّعْتُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ

1324. Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu’man telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim berkata ; Aku mendengar Nafi’ berkata ; disampaikan kepada Ibnu Umar bahwa Abu Hurairah ra berkata, “Barangsiapa yang mengantar jenazah baginya pahala satu qirath. Maka dia (Ibnu Umar ra) berkata, : Abu Hurairah memperbanyak kepada kita”. Kemudian pernyataan Abu Hurairah dibenarkan oleh Aisyah ra an Abu Hurairah berkata ; aku mendengar Rasulullah mengatakannya. Maka Ibnu Umar berkata : “Kami telah banyak meremehkan masalah dan aku telah meremehkan dan melalaikan urusan agama Allah.”

2.      Kritik Matan
a.       Analisis Linguistik
Qirath menurut al Jauhari berasal dari kata qarrath, karena bentuk jamaknya adalah qarariith. Lalu beliau menambahkan, “Satu qirath sama dengan ½ daniq”. Sebelum itu, beliau mengatakan ”Satu daniq sama dengan ½ dirham”. Berdasarkan keterangan ini, maka satu qirath  adalah 1/12 dirham. Sedangkan penulis kitab An-Nihayah berkata, “Qirath adalah salah satu pecahan dinar, yakni 1/20 dinar di kebanyakan negeri”. Sementara di Syam adalah 1/24 dinar.
Lafadz qirath  telah disebutkan dalam sejumlah hadis; diantaranya ada yang dipahami dalam arti yang biasa dikenal dan diantaranya pula ada yang dipahami dalam arti bagian dari sesuatu, meskipun kadarnya tidak diketahui secara pasti. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan satu qirath adalah satu bagian dari bagian-bagian yang diketahui oleh Allah, lalu Nabi berupaya mendekatkan pemahaman dengan menggambarkan seperti bukit Uhud.
Ath-Thaibi berkata “Perumpamaan ‘seperti Uhud’ merupakan penafsiran maksud perkataan, bukan tafsiran kata qirath. Sehingga maksudnya bahwa orang itu kembali membawa pahala yang sangat besar, sebab lafadz qirath merupakan lafadz mubham (tidak jelas). Ibnu al Manayyar berkata, “Beliau bermaksud memberi gambaran yang hebat tentang pahala. Oleh karena itu, beliau memberi pemisalan dengan bukit yang paling besar serta paling disukai oleh jiwa orang-orang mukmin”.
b.      Tidak bertentangan dengan al-Qur’an.
QS. Al-Maidah ayat ayat 2 :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿المائدة: ٢﴾

Artinya :
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
            Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa tolong menolong hanya diperbolehkan dalam hal yang ma’ruf saja dan tidak diperbolehkan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Hendaknya orang Islam membantu orang yang membutuhkan baik dengan ucapan, doa atau tindakan yang kemudian akan memompa semangat orang lain untuk beramal. Kewajiban antara seorang hamba dengan sesama adalah dengan jalan dakwah yaitu antara lain dengan mencurahkan nasehat dan anjuran berbuat baik. Dan kewajiban antara seorang hamba dengan Rabbnya, akan terwujud melalui menjalankan hak tersebut dengan ikhlas, cinta dan penuh pengabdian kepada-Nya sehingga muncullah sikap takwa kepada Allah.
c.       Tidak bertentangan dengan hadis lain.
 (1170)- [1240] حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ يَقُولُ: " حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلَامِ، وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ "، تَابَعَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، وَرَوَاهُ سَلَامَةُ بْنُ رَوْحٍ، عَنْ عُقَيْلٍ

Hadis tersebut menjelaskan mengenai adanya hak yang harus dipenuhi oleh seorang muslim kepada muslim lainnya yaitu berupa menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan, dan mendoakan orang yang bersin. Dalam hal ini mengantar jenazah adalah fardhu kifayah, maka ketika sebagian orang telah melaksanakan kewajiban tersebut gugurlah kewajiban itu untuk orang yang lainnya. 
(1576)- [945] وحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، وَحَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، وَهَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ، واللفظ لهارون، وحرملة، قَالَ هَارُونُ: حَدَّثَنَا، وَقَالَ الْآخَرَانِ: أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ هُرْمُزَ الْأَعْرَجُ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ " مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ "، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟، قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa orang yang melayat jenazah hingga menshalatinya, maka baginya satu qirath dan bagi orang yang melayatnya hingga dimakamkan, maka baginya pahala dua qirath. Dalam hadis ini, dijelaskan secara eksplisit bahwa maksud dua qirath adalah seperti dua gunung besar.
C.    Kesimpulan
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan sesamanya, saling membantu dan tolong menolong adalah suatu keharusan. Saat manusia meninggal duniapun, masih membutuhkan bantuan dari oranglain untuk dapat mengurus jenazah mayit dengan layak. Sejak zaman dahulu, bahkan sejak adanya manusia perilaku tolong-menolong ini adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah mampu untuk hidup sendiri tanpa bantuan dari oranglain. Mengantar jenazah ke liang lahat ataupun ta’ziah juga merupakan salah satu bentuk tolong menolong dan juga sebagai ungkapan belasungkawa dan empati terhadap keluarga yang ditinggal oleh mayit.
Perihal makna dari qirat sendiri, ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda. Ada ulama yang memberikan pemaknaan bahwa satu qirat itu sebesar gunung Uhud, lebih besar dari gunung Uhud ataupun seperti gunung yang besar. Hal ini dimaksudkan untuk memotivasi orang Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan karena Allah memperbanyak pahala bagi orang muslim yang mau mengurus jenazah orang muslim, serta untuk menyederhanakan pemahaman terkait makna qirat sekalipun belum bisa didapatkan pemahaman secara hakiki.
Realitas yang ada sekarang, bahwa saat ini banyak orang yang cenderung cuek terhadap sesamanya dan cenderung bersifat egois atau mementingkan keuntungan pribadi. Bahkan diantaranya juga ada beberapa gelintir orang yang mau menolong ketika ia juga diuntungkan. Ketika acara ta’ziyah atau melayati mayit, ketika yang meninggal adalah orang mempunyai reputasi baik di masyarakat maka secara otomatis banyak pelayat yang datang ke rumahnya. Begitupun ketika orang yang meninggal mempunyai reputasi buruk di mata masyarakat, secara otomatis pula yang melayat ke rumah orang tersebut hanya beberapa gelintir orang saja. Ini merupakan hal yang lumrah yang terjadi di masyarakat, sebagai bentuk timbal balik atas perlakuan antar individu masyarakat.
Agaknya sikap ini tidak sesuai dengan hadis mengenai anjuran mengantarkan jenazah ini, walaupun memang Nabi SAW membolehkan untuk membalas dengan perlakuan sama terhadap orang yang dholim kepada kita. Tapi alangkah lebih bijaknya memaafkan dan menyelesaikannya dengan jalan damai karena tidak harus semua perlakuan buruk itu dibalas dengan perlakuan yang buruk juga. Memaafkan adalah lebih mulia dan lebih mendatangkan banyak kemaslahatan sehingga kemudian tercipta kedamaian dan kenyamanan di masyarakat. Selain itu, hal yang menjadi kewajiban terhadap sesama pun dapat terselesaikan dengan baik.
Baca Juga Artikel Tentang:
Hadits Tentang Anjuran Menikah Muda

Saya Adalah Hamba Allah yang senantiasa berlindung kepada Allah menjahui segala laranganya dan menjalankan segala perintahnya.


EmoticonEmoticon