Tuesday, February 14, 2017

Makalah KH. Ahmad Dahlan

Bab I Pendahuluan.K.H. Ahmad Dahlan merupakan pembaharu Islam di Indonesia. Pada 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 Nopember 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Muhammadiyah merupakan organisasi tempat beramal dan melaksanakan ide-ide pembaruan Kiai Dahlan yang sangat menarik perhatian para pengamat perkembangan Islam dunia ketika itu. Para sarjana dan pengarang dari Timur maupun Barat sangat memfokuskan perhatian pada Muhammadiyah. Nama Kiai Haji Akhmad Dahlan pun semakin tersohor di dunia. Melalui lembaga inilah beliau melaksanakan ide pembaharuan di segala bidang terutama bidang pendidikan. Sebab menurut K.H. Ahmad Dahlan agama Islam tidak akan bisa tegak tanpa diperjuangkan melalui organisasi yang rapi. Demikian pula untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda, harus dengan meningkatkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan melalui lembaga pendidikan. Itulah sebabnya gerakan Muhammadiyah pada awal kelahirannya memprioritaskan kegiatannya pada bidang pendidikan.    
      
      Dalam kancah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, peranan dan sumbangan beliau sangatlah besar. Kiai Dahlan dengan segala ide-ide pembaruan yang diajarkannya merupakan saham yang sangat besar bagi Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20.


Baca juga Artikel Tentang:
                           Macam-Macam Hijab Dalam Kewarisan Islam


BAB II
PEMBAHASAN

     A.    Biografi K.H. Ahmad Dahlan

Ahmad Dahlan lahir di kampung Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 M dengan nama Muhammad Darwisy bin Abu Bakar bin Muhammad Sulaiman bin Murtadha bin Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Sulaiman (Ki Ageng Gribig) bin Muhammad Fadhlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri). . Ayahnya bernama K.H Abu bakar, seorang khatib Masjid Gedhe kesultanan Yogyakarta. Ibunya bernama Siti Aminah, putri penghulu kesultanan Yogyakarta. Ia merupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa.
Muhammmad Darwis tidak sekolah, melainkan belajar mengaji Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama Islam pada ayahnya sendiri. Pada usia delapan tahun ia telah lancar membaca Al-Qur’an hingga khatam. Selanjutnya ia belajar fiqh kepada K.H Moh. Saleh, dan Nahwu kepada K.H. Muhsin, keduanya adalah kakak ipar Darwis. Ia juga berguru pada K.H. Muhammad Nur dan K.H Abdul Hamid dalam berbagai ilmu.
Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selama lima tahun. Ia juga belajar kepada K.H Mahfud Termas, K.H Nahrowi Banyumas, K.H Muh Nawawi Banten dan juga kepada para ulama Arab di Masjidil Haram. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Ia juga mendatangi ulama madzab Syafi’i Bakhri Syata’ dan mendapat nama Haji Ahmad Dahlan dari beliau.
 Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Ahmad Dahlan. Sepulangnya dari Makkah ini, ia pun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.  Haji Ahmad Dahlan pulang pada tahun 1891. Sepulangnya dari haji ia dipercaya mengajar santri dewasa sehingga ia dipanggil K.H. Ahmad Dahlan. Pada tahun 1896 M, KH, Abubakar wafat jabatan dilimpahkan kepada KH. Ahmad Dahlan dengan gelar Khatib Amin , yang diberi tugas : 
1.      Khutbah Jum’ah saling berganti dengan kawannya delapan orang Khatib 
2.      Piket di serambi masjid dengan kawannya enam orang sekali seminggu
3.      Menjadi anggota Raad Agama Islam Hukum Keraton.

Usaha pertama yang dilakukan Khatib Amin dalam dakwahnya yaitu beliau ingin menerangkan arah kiblat shalat yang sebenarnya, usaha-usaha awalnya dirintis dengan penyebaran informasi kepada para ulama terbatas yang telah sepaham di sekitar Kauman itupun memakan waktu hampir setahun. Kemudian hendak mengundang 17 ulama dari luar Yogyakarta untuk memusyawarahkan soal arah kiblat shalat di surau Khatib Amin K.H.Ahmad Dahlan mereka dimimta membawa kitab tentang arah kiblat. Musyawarah tersebut berlangsung pada tahun1898 meskipun tidak didapatkan kesepakatan pendapat itu sudah dianggap ada kemajuan positif karena jalannya musyawarah berjalan sopan dan tidak gaduh. Tahun 1898 selama tiga bulan Khatib Amin merenovasi dan memperluas surau peninggalan ayahnya dengan sekaligus dihadapkan ke arah kiblat. Namun banyak orang tidak suka denganapa yang dilakukan oleh Khatib Amin sehingga surau yang baru diluas dan direnovasi dirobohkan oleh sepuluh orang utusan Kyai Penghulu. Setelah tiga tahun peristiwa tersebut, Khatib Amin tetap menekuni pekerjaan dinasnya maupun mengajar murid muridnya di surau barunya.

Pada Tahun 1889, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.
Merasa ilmunya masih kurang Khatib Amin berangkat haji untuk kedua kalinya (1902-1904) yang direkayasa oleh pemerintahan kesultanan. Masalah kiblat masjid besar dan pembongkaran surau Khatib Amin itu merupakan manifestasi pertentangan antara faham islam tradisional dan faham pembaharuan dalam islam. Untuk menghindari ketegangan pemerintah kesultanan mengirim Khatib Amin ke Mekkah selama dua tahun. Ia studi lanjut tentang berbagai ilmu islam kepada para gurunya sewaktu haji pertama dulu, juga kepada yang lain. Dalam hal ini beliau belajar ilmu fikih kepada Syekh Saleh Bafedal, Syekh Sa’id Yamani, dan Syekh Sa’id Babusyel, ilmu hadist kepada Muftih Syafii, ilmu Falak kepada Kyai Asy’ari Bawean dan ilmu qiraat kepada Syekh Ali Misri Mekkah. Kecuali itu juga bersahabat akrab dengan para ulama Indonesia yang lama bermukim disana seperti Syeh Ahmad Khatib (Minangkabau), Kyai Nawawi (Banten), Kyai Mas Abdullah (Surabaya), KH.Fakih (Maskumambang) berbagai maslah sosila keagamaan dialami di tanah air dijadikan topic diskusi mereka.
Sepulang dari haji yang kedua ini K.H.Ahmad Dahlan membangun pondok untuk menampung murid-muridnya yang berasal dari luar kota Yogyakarta dan kota-kota di Jawa Tengah. Para muridnya diberi pelajaran ilmu falak, tauhid dan tafsir dari Mesir.
Selain sebagai tokoh agama, beliau juga seorang pedagang batik yang mumpuni. Maka tak heran, kalau gagasan dan pemikirannya cepat menyebar ke berbagai daerah, karena memang aktivitasnya yang terus berputar dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Disela-sela berdagang, beliau selalu mendakwahkan ajaran agama Islam. Ahmad Dahlan merupakan seorang aktivis kemasyarakatan yang memiliki pemikiran cemerlang dan wawasan luas. Dengan mudah, beliau diterima diorganisasi Jam`iyatul Khair, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1909 Ahmad Dahlan bergabung dengan Boedi Oetomo, sebuah organisasi tempat ditempanya para tokoh-tokoh nasionalis. Selain mengajarkan tentang agama pada anggota Boedi Oetomo, beliau juga belajar tentang organisasi, manajemen dan berbagai hal mengenai pergerakan. Dari sinilah beliau kemudian menyerap berbagai pengetahuan yang dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan. Maka pada 18 November 1912 (8 Dzulhijah 1330) beliau mendirikan organisasi kemasyarakatan dan pendidikan yang dilandasi semangat keagamaan dan pembaharuan bernama Muhammadiyah. Beliau Wafat pada tahun 1923.

     B.     Ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan dan Pengaruhnya
KH. Ahmad Dahlan adalah sosok yang cerdas dalam menangkap pesan al Quran dan al Hadis serta tanda-tanda zaman. Beliau berfikir rasional dan kritis, berwawasan luas dan futuristik. Menurutnya agama Islam berasal dari Tuhan dan absolut, tetapi perlu difahami melalui medium penafsiran manusia yang berlaku dalam setting lingkungan sosial yang kompleks. Oleh karenanya, hasil interprestasi manusia bersifat nisbi dan harus terus menerus dievaluasi dan direvisi.
KH. A. Dahlan berpendapat bahwa dengan akal fikiran manusia dapat memperoleh kebenaran, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mampu memegang teguh kebenaran itu karena kuatir kehilangan kesenangan duniawi. Gagasannya tidak semata teoritis, tetapi sekaligus praktis. Islam adalah kebenaran doktrinal yang praksis, tidak teoritis, tidak abstrak. Implementasi ajaran Islam merupakan tujuan utama dari makna Islam yang sesungguhnya dan karena itu menjadi standar dalam mengukur komitmen seorang Muslim.
KH. Ahmad Dahlan menawarkan gagasan yang cerdas sebagai solusi memenahi sistem pendidikan yaitu sistem sekolah dan madrasah / pesantren, yang tujuannya adalah untuk menciptakan ulama intelek dan intelek yang ulama. Model pendidikan yang digagas K.H.Ahmad Dahlan ini sekarang telah menjadi model pendidikan di Indonesia, baik negeri maupun swasta. Dalam menafsirkan hadis ia berpijak pada teks dan konteksnya bahkan maqashidus syari’ah dari teks tersebut.
Terhadap kemiskinan dan ketepurukkan ekonomi yang menimpa kaum Muslimin, KHA. Dahlan menyerukan kepada umat Islam agar menjalankan amalan-amalan sosial seperti yang diperintahkan agama, dibangkitkan perasaan masyarakat yang sudah lemah dalam usaha tolong-menolong sehingga orang memiliki sikap sosial yang positif. Untuk itu beliau mempelopori mendirikan rumah yatim, rumah miskin dan rumah sakit. Zakat, qurban, shadaqah digerakkan dan digembirakan. Beliau ikut mempedayakan ekonomi pribumi yang termarginalkan oleh praktek ekonomi Belanda, bahkan beliau adalah enterpreneur yang handal. Untuk menggapai kejayaan uamat Islam harus memiliki basis ekonomi yang kuat.
Terhadap kerusakan aqidah, KHA. Dahlan mengajak kaum Muslimin untuk kembali kepada kemurinian tauhid beradasrkan al Quran dan Hadis. Hanya percaya kepada ke-Esaan Allah SWT. semata dan hanya kepada-Nya manusia menyembah dan memohon pertolongan. Beliau berpendapat salah satu sebab kemunduran umat Islam karena terbelenggu mitos-mitos yang diciptakan oleh para penguasa atau pengaruh ajaran Hindu-Budha.
Untuk mengatasi kebekuan (statis) dalam fiqh, KHA. Dahlan mengajak umat Islam mempelajari Islam dari sumber aslinya, al Quran dan al Hadis. Kemudian diajak pula mengadakan penyelidikan dan analisa terhadap ajaran al Quran dan al Hadis sehingga dengan demikian Islam dapat lepas dari ikatan yang sempit dan mencoba menilai aktivitas keseharian yang bermacam-macam itu dengan nilai agama. Beliau termasuk orang yang tidak mengikatkan diri pada salah satu mazhab sehingga sering dituduh keluar dari mainstreim (arus besar) Islam. Banyak ide-ide beliau yang telah diwujudkan dalam amalan praktis sehari-hari berbeda dengan prakek populer masyarakat pada zamannya yang merujuk pendapat salah satu mazhab.
Langkah yang ditempuh K.H.A. Dahlan mengantisipasi kemajuan agama Kristen dan Katholik adalah dengan mempergiat dan menggembirakan tabligh, menata dan mempermodern organisasinya. Beliau termasuk orang yang percaya diri dan menguasai seluk beluk ajaran Islam sehingga tidak ragu-ragu menantang dialog dengan para pastur dan pendeta.
Secara umum, ide-ide pembaharuan Ahmad Dahlan menurut Ramayulis dan Samsul Nizar dapat diklasifikasikan kepada dua dimensi, yaitu; Pertama, berupaya memurnikan (purifikasi) ajaran Islam dari khurafat, tahayul, dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam. Kedua, mengajak umat Islam untuk keluar dari jaring pemikiran tradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.          
Ide-ide pembaharuan tersebut hanya dapat dilaksanakan melalui pendidikan. Menurut Ahmad Dahlan pendidikan juga merupakan upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola berpikir yang statis menuju pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Mereka hendaknya didik agar cerdas, kritis, dan memiliki daya analisis yang tajam dalam memetakan dinamika kehidupan pada masa depan. Adapun kunci untuk meningkatkan kemajukan umat Islam adalah kembali kepada al-Qur`an dan hadis, mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komprehensif, dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Upaya ini secara strategis dapat dilakukan melalui pendidikan.`
Tetapi pendidikan yang dimaksud oleh K.H. Ahmad Dahlan adalah pendidikan yang berorientasi pada pendidikan modern, yaitu dengan menggunakan sistem klasikal.
Formalitas beragama adalah fokus utama yang ingin didekonstruksi oleh Kyai Dahlan. Ide pembaharuannya menyangkut akidah dan syariat, misalnya tentang upacara ritual kematian, upacara perkawinan, kehamilan, sunatan, berziarah ke kuburan keramat, memberikan sesajen kepada hal yang dianggap keramat dan sebagainya. Menurut Kyai Dahlan, hal-hal tersebut bertentangan dengan Islam dan dapat menimbulkan perbuatan syirik dan musyrik. Kyai Dahlan juga berupaya menegakkan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist, berusaha mengedepankan ijtihad jika ada hal yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Hadist serta berusaha menghilangkan taqlid (pendapat ulama terdahulu tanpa ada dasarnya) dalam fiqih dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Secara umum, K.H. Ahmad melakukan beberapa pembaharuan sebagai berikut:
·         Pembaharuan Lewat Politik
Sebelum Muhammadiyah berdiri, Kiai Ahmad Dahlan telah melakukan berbagai kegiatan keagamaan dan dakwah. Tahun 1906, Kiai diangkat sebagai khatib Masjid Besar Yogyakarta dengan gelar Katib Amin oleh Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam usianya yang relatif muda sekitar 28 tahun, ketika ayahanda Kyai mulai uzur dari jabatan serupa. Satu tahun kemudian (1907) Kiai memelopori Musyawarah Alim Ulama. Dalam rapat pertama beliau menyampaikan arah kiblat Masjid Besar kurang tepat.

Tahun 1922 Kiai membentuk Badan Musyawarah Ulama. Tujuan badan itu ialah mempersatukan ulama di seluruh Hindia Belanda dan merumuskan berbagai kaidah hukum Islam sebagai pedoman pengamalan Islam khususnya bagi warga Muhammadiyah. Badan Musyawarah ini diketuai RH Moehammad Kamaludiningrat, penghulu Kraton. Meskipun pernah berbeda pendapat, Moehammad Kamaludiningrat ini yang mendorong para pimpinan Muhammadiyah kemudian membentuk Majelis Tarjih (1927). Majelis ini diketuai Kiai Mas Mansur. Dengan tujuan dakwah agar manusia berfikir dan tertarik pada kebagusan Islam melalui pembuktian jalan kepandaian dan ilmu. Tahun 1909, Kiai Ahmad Dahlan bergabung dengan Boedi Oetomo. Tujuannya selain sebagai wadah semangat kebangsaan, juga untuk memperlancar aktivitas dakwah dan pendidikan Islam yang dilakukannya. Ketika Muhammadiyah terbentuk, bahkan 7 orang pengurusnya menyusul bergabung dengan Boedi Oetomo. Hubungan Muhammadiyah dengan Boedi Oetomo sangat erat, sehingga Kongres Boedi Oetomo tahun 1917 diselenggarakan di rumah Kiai Ahmad Dahlan.                                  Di sisi lain Dr. Soetomo pendiri Boedi Oetomo juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah dan menjadi Penasehat (Adviseur Besar) Muhammadiyah. Dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 (Surabaya), Dr.Soetomo memberikan ceramah (khutbah) dengan tema Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Khutbah ini yang mendorong lahirnya PKO dengan rumah sakit dan panti asuhannya kemudian. Dr.Soetomo pun membantu memperlancar pengesahan berdirinya Muhammadiyah, tiga tahun setelah berdirinya.        
            Untuk mengetahui informasi perkembangan pemikiran di Timur Tengah Ahmad Dahlan menjalin hubungan intensif melalui Jami’at Khair dan masuk menjadi anggotanya pada tahun 1910. Ketika Syarikat Islam berdiri, Ahmad Dahlan pun ikut serta menjadi anggota.Rupanya dengan masuknya Ahmad Dahlan pada semua organisasi tersebut di atas dakwahnya semakin meluas dan mendapat respon positif dan di dukung oleh kalangan modernis dan perkotaan. Dari sinilah Ahmad Dahlan mendapat masukan dari berbagai pihak, yang akhirnya pada tanggal 18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan wadah gerakan bagi pikirannya yaitu “Muhammadiyah”.
·         Pembaharuan Lewat Pendidikan 
 Tak kalah penting dalam pembicaraan kita tentang Kyai Dahlan adalah semangatnya sebagai seorang pendidik. Beliau begitu intens mengkritik dualisme pendidikan pada masanya. Pandangan muslim tradisional terhadap pendidikan terlalu menitikberatkan pada aspek spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat dari lembaga pendidikannya yaitu pesantren. Pesantren lebih mengembangkan ilmu agama dibanding ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan kemunduran pada dunia Islam karena umat Islam hanya memikirkan masalah akhirat dan menimbulkan sikap pasrah.Begitu pun dengan sistem pendidikan kolonial. Dilihat dari metode pengajaran dan alat-alat pendidikannya, memang terbilang banyak sekali manfaat dan kemajuan yang bisa diraih siswa dari pendidikan kolonial ini. hanya saja, dalam sekolah kolonial tidak terdapat pelajaran tentang agama, khususnya Islam. Hal ini menyebabkan siswa cakap secara intelektual namun lemah karakter dan moralitasnya. Karena itulah Kyai Dahlan memandang penting persoalan sinergi antara ilmu umum dan agama. Karena itulah institusi pendidikan Muhammadiyah tidak memberlakukan pemisahan antara ilmu umum dan agama.            
      Sekolah Muhammadiyah yang pertama telah berdiri satu tahun sebelum Muhammadiyah sebagai organisasi berdiri. Pada tahun 1911 Kyai Dahlan mendirikan sebuah madrasah di rumahnya yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan kaum muslim terhadap pendidikan agama dan pada saat yang sama memberikan mata pelajaran umum. Di sekolah itu, pendidikan agama diberikan oleh Kyai Dahlan sendiri dan pelajaran umum diajarkan oleh seorang anggota Budi Utomo yang juga guru di sekolah pemerintah.
      Ketika sekolah ini dibuka hanya ada 9 murid yang mendaftar. Hal itu membuktikan bahwa umat Islam belum memandang pentingnya ilmu pengetahuan umum dan agama. Respon tersebut tidak mematahkan semangat Kyai Dahlan. Ia tidak segan-segan mendatangi anak-anak sampai ke rumahnya untuk mengajak mereka masuk sekolah. Kyai Dahlan juga memberikan perhatian khusus pada pendidikan anak-anak perempuan. Karena bila anak laki-laki maju, anak perempuan terbelakang maka terjadi kepincangan. Pada tahun 1918 didirikan sekolah Aisyiyah. Suatu pertanda bahwa pemikiran emansipasi pendidikan juga menjadi perhatian Kyai Dahlan.
      Sinergi antara ilmu umum dan agama juga merupakan tanda bahwa Kyai Dahlan sangat menyadari pentingnya pembangunan kepribadian sebagai salah satu tujuan pendidikan. Entah disadari atau tidak, upaya Kyai Dahlan menyinergikan antara ilmu umum dan agama ini merupakan sebuah antitesis terhadap Prof. Snouck Hurgronje. Inilah sebab mengapa pemikiran Kyai Dahlan di bidang pendidikan merupakan sebuah terobosan yang membawa dampak besar bagi umat. Lebih jauh kedepan, dapat kita lihat hasilnya dengan munculnya kader-kader Muhammadiyah yang turut mewarnai dunia politik dengan membawa identitas ke-Islamannya. Ditinjau dari faktor-faktor yang melatarbelakangi pemikiran KH. Ahamd Dahlan untuk mendirikan Persyarikatan Muhamamdiyah, secara garis  besar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) faktor penyebab yaitu :
a.      Faktor Subyektif.
   Faktor subyektif sangat kuat, bahkan dapat dikatakan sebagai faktor utama dan faktor penentu yang mendorong  berdirinya Muhammadiyah adalah hasil pendalaman K.H.A Dahlan terhadap Al Quran baik dalam hal gemar membaca maupun menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya. Sikap seperti ini dalam rangka melaksanakan firman Allah sebagaimana yang tersimpul dalam QS. An Nias’ ayat 82 dan QS Muhammad ayat 24 yaitu melakukan taddabur atau memperhatikan dan mencermati dengan penuh ketelitian terhadap apa yang tersirat dalam setiap ayat, dan menatap QS Ali Imran ayat 104. Memahami seruan ayat ini di atas, K.H.A. Dahlan tergerak hatinya untuk membangun sebuah perkumpulan organisais atau persyarikatan yang teratur dan rapi yang tugasnya berkhidmat melaksanakan misi dakwah Islam amar makruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat luas.
b.         Faktor Obyektif.
Ada beberapa sebab bersifat obyektif yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah, yang dapat dikelompokkan dalam faktor internal yaitu penyebab yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat Islam Indonesia dan faktor eksternal yaitu penyebab yang ada di luar tubuh masyarakat Islam Indonesia.
1).  Faktor obyektif yang bersifat internal :
-    Ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya Al Quran dan as Sunnah sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagian besar umat Islam Indonesia.
-     Lembaga pendidikan yang dimiliki umat Islam belum mampu menyiapkan generasi yang siap mengemban misi selaku “Khalifah Allah di atas bumi”.
      2).   Faktor subyektif yang bersifat eksternal :
-     Semakin meningkatnya Gerakan Kristenisasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
-     Penetrasi bangsa-bangsa Eropa, terutama bangsa Belanda ke Indonesia.
-     Pengaruh dari gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam.
Dari latar belakang berdirinya pertumbuhan dan perjalanan hidup Muhammadiyah terdapat suatu ciri yang melekat erat dan menjadi sifat dari perjuangan Muhammadiyah, yaitu:
1.      Muhammadiyah sebagai gerakan islam
Yaitu sebagai suatu gerakan yang dinamis , aktif, lincah, cekatan dan terampil dalam memelopori pembaharuan untuk kesempurnaan. Dan gerakannya adalah gerakan Islam, sehingga segala gerak-gerik langkah usahanya selalu mendasarkan dirinya pada ajaran dan tuntunan islam, pelaksanaannya dijalankan dengan cara-cara yang dibenarkan oleh Islam serta mempunyai keyakinan teguh bahwa Islam adalah satu-satunya asas yang kuat bersumber pada wahyu ilahi dan bukan reka-rekaan manusia.
2.      Muhammadiyah sebagai gerakan da’wah
Terbawa oleh pola dasar perjuangan yang diletakkan semenjak kelahirannya (surat Ali Imran: 104), maka Nampak dengan nyata ciri dan sifat Muhammadiyah yang lalu menyampaikan dan menda’wahkan Islam ketengah-tengah masyarakat, dalam berbagai bentuk, cara dan perwujudannya.
3.      Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid
Ciri dan sifat lain yang menonjol dalam perjalanan Muhammadiyah ialah selalu melangkah dan bergerak sepanjang tuntunan Nash Al-Quran dan Hadits, serta selalu menunjukkan kemampuannya untuk menemukan cara-cara dan metode baru dalam melaksanakan ajaran Islam, ditengah-tengah kehidupan dan perkembangan masyarakat.
                     Baca Juga Artikel Tentang Kasus KDRT Menurut Pandangan Islam

Saya Adalah Hamba Allah yang senantiasa berlindung kepada Allah menjahui segala laranganya dan menjalankan segala perintahnya.


EmoticonEmoticon