Friday, February 17, 2017

Ringkasan Isi Kitab Hadits Sunan Tirmidzi

A.Latar belakang penulisan kitab Sunan Tirmidzi.Kitab Sunan al-Tirmidzi yang sering disebut dengan kitab Jami’ al- Tirmidzi merupakan salah satu kitab yang menjadi rujukan penting berkaitan dengan masalah hadis dan ilmunya. Kitab Jami’ al- Tirmizi merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kutubus sittah (enam kitab pokok dalam dalam bidang hadis) dan ensiklopedia kitab hadis. At-Tirmidzi merupakan seorang pakar hadits yang masyhur pada masanya. Beliau mengukir sejarah dengan pembagian hadits menjadi hadits sahih, hasan, dan da’if. Periode ini merupakan periode “penyempurnaan dan pemilahan”yaitu penanganan terhadap persoalan-persoalan yang belum sempat terselesaikan pada periode sebelumnya seperti persoalan jarh wa ta’dil, persambungan sanad, kritik matan dan juga pemisahan hadits Nabi dan fatwa sahabat. Upaya ini kemudian akhirnya memunculkan kitab-kitab hadits dengan corak yang beragam antara lain kitab al-Jami’ al-Sahih karya al-Bukhari, kitab al-Jami’ al-Sahih karya Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan Tirmidzi dan Sunan al-Nasai. Keberdaan kitab-kitab ini dimaksudkan untuk menangkal pemalsuan hadits dari golongan para pendusta dan madzhab teolog yang fanatik dalam membela golonganya.

Masa ini merupakan masa kebangkitan ‘ulama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang hadis dan fikih dan para mujtahid sedang giat dalam upaya menata hukum Islam dari segi dasar, pola pikir dan petunjuk operasional pelaksanaan syari’ah Islam dari hadis Nabi Muhammad hingga akhirnya memunculkan kitab-kitab yang  bercorak fiqih.

   
  B.     Metode kitab al-Jami’ al-Sahih

Judul lengkap kitabnya al-Jami’ al-Sahih yaitu al-Jami’ Mukhtasar min al-Sunan ‘an Rasulillah. Namun kitab ini lebih populer dikenal dengan nama al-Jami’ al-Tirmidzi atau Sunan Tirmidzi. Para Ulama berbeda pendapat menyangkut penamaan kitab jika terdapat kata-kata sahih yang melekat pada nama kitab. Al-Hakim (w.405 H) dan al-Khatib al-Bagdadi (w. 483 H) tidak keberatan menyebutnya dengan Sahih Tirmidzi atau al-Jami’ al-Sahih. Berbeda dengan Ibn Katsir yang menyatakan bahwa pemberian nama itu tidak terlalu tepat dan terlalu gegabah, sebab dalam kitab tersebut tidak hanya memuat hadits-hadits sahih saja akan tetapi juga memuat hadits hasan, dlo’if dan munkar yang meskipun al-Tirmidzi selalu menerangkan kelemahannya, kemu’alalannya dan kemunkarannya.
Metode yang digunakan al-Tirmidzi dalam kitabnya :
1)      Mentakhrij hadist yang menjadi amalan para fuqaha, kecuali dua hadits yaitu :

أن النبي صلي الله عليه وسلم جمع بين الظهر والعصر بالمدينة والمغرب والعشاء من غير خوف ولا سفر ولا مطر
“Sesungguhnya Rasulullah menjama’ salat zuhur dengan asar dan maghrib dengan isya tanpa adanya sebab takut, dalam perjalanan dan tidak pula karena hujan.”
Hadits ini menerangkan tentang menjama’ salat. Para Ulama tidak sepakat untuk meninggalkan hadits ini. Ibn Sirin serta sebagian ahli fiqih dan ahli hadits berpendapat bahwa boleh hukumnya melakukan salat jama’dirumah selama tidak dijadikan kebiasaan.

أذا شرب الخمر فان ما د في الرابعة فاقتلوه
“Apabila seseorang minum khamar, maka deralah ia dan jika ia kembali minum khamar pada yang keempat kalinya maka bunuhlah ia.”
Sedangkan hadits ini menerangkan bahwa peminum khamar akan dibunuh jika mengulangi perbuatannya yang keempat kalinya. Hadits ini menurut al-Tirmidzi dihapus oleh ijma ulama sehingga maksud al-Tirmidzi mencantumkan hadits ini adalah untuk menerangkan ke-mansukhan hadits yang telah dimansukh dengan hadits riwayat al-Zuhri dari Qabisah bin Zawaib dari Nabi yang menerangkan bahwa peminum khamar tersebut dibawa kepada Rasul lalu beliau hanya memukulnya dan tidak membunuhnya.
Semua hadits yang terdapat dalamkitab al-Jami’ al-Sahih telah diamalkan oleh ulama Hijaz, Iraq, Khurasan serta daerah lain, kecuali dua hadits ini. Hadits ini diperselisihkan ulama baik dari segi sanad maupun segi matan sehingga ulama ada yang menerima dan ada pula yang menolak dengan alasan-alasan yang berdasarkan naql maupun ‘aqal.

2)      Memberi penjelasan tentang kualitas dan keadaan hadits

Al-Tirmidzi dapat mengetahui kebenaran dari hadits yang ia tulis berdasarkan hasil diskusinya dengan para ulama. Usaha al-Tirmidzi dalam menjelaskan keadaan suatu hadits dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan hadits tersebut.
Menurut al-Hafidz Abu Fadil bin Tahir al-Maqdisi (w. 507 H) terdapat empat syarat yang ditetapkan oleh al-Tirmidzi sebagai standarisasi periwayatan hadits, yaitu :
a)      Hadits-hadits yang sudah disepakati kesahihannya oleh Bukhari dan Muslim
b)      Hadits-hadits yang sahih menurut standar kesahihan Abu Dawud dan al-Nasai, yaitu hadits-hadits yang para ulama tidak sepakat untuk meninggalkannya dengan syarat hadits tersebut bersambung sanadnya dan tidak mursal.
c)      Hadits-hadits yang tidak dipastikan kesahihannya dengan menjelaskan sebab-sebab kelemahannya.
d)     Hadits yang dijadikan hujjah oleh fuqaha baik hadits tersebut sahih atau tidak yang ketidaksahihannya tidak sampai pada tingkat dla’if matruk.

      C.     Isi kitab al-Jami’ al-Sahih
Secara keseluruhan, kitab al-Jami’ al-Sahih terdiri dari 5 juz, 2376 bab dan 3956  hadits. Kitab al-jami’ al-Shaih memuat berbagai masalah yang berkaitan dengan pokok-pokok agama diantaranya al-‘aqaid (akidah), al-riqaq (budi luhur), adab (etika), al-tafsir (tafsir al-Qur’an), al-tarikh wa al-syiar (sejarah dan jihad Nabi), al-syamail (tabi’t), al-fitan (fitnah), dan al-manaqib wa al-masalib. Oleh karena itu, kitab hadits ini disebut dengan al-Jami’.

       D.    Sistematika kitab al-Jami’ al-Sahih
Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab-bab fiqih. Al-Tirmidzi menyusun kitab ini menurut klasifikasi sistematikanya dengan model juz, kitab, bab dan sub bab. Kitab ini ditahqiq dan dita’liq oleh tiga ulama modern yaitu Ahmad Muhammad Syakir, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’, dan Ibrahim ‘Adwah  ‘Aud.
Juz pertama dan juz kedua ditahqiq dan dita’liq oleh Ahmad Muhammmad Syakir. Beliau membagi juz menjadi abwaib. Dari abwaib itu dibagi menjadi semacam sub abwaib, tetapi tidak diberi nama judulnya hanya sejumlah hadits ada relevansinya dikelompokkan, sesudah sub abwaib barulah dibagi menjadi bab diberi judul, sedangkan sub abwaib tidak menggunakan judul.
Secara rinci sistematika kitab al-Jami’al-Shaih dapat dibagi emnjadi menjadi beberapa juz, yaitu sebagai berikut :
Juz kesatu dibagi menjadi dua bab, yakni bab al-thaharah dan bab al-salah. Dari bab-bab tersebut dibagi lagi menjadi sub-sub bab :
1.      Bab al-thaharah terdiri dari 122 bab dan 148 hadits
2.      Abwab al-Salah terdiri dari 62 bab dan 89 hadits
Juz kedua dibagi menjadi bab al-Salah sebagai lanjutan dari juz kesatu, terdiri atas156 bab dan 195 hadits :
1.      Abwab Witir terdiri atas 22 bab dan 35 hadits
2.      Abwab al-Jumu’ah terdiri atas 29 bab dan 41 hadits
3.      Bab ‘Idain terdiri atas 9 bab dan 12 hadits
4.      Bab al-Safar terdiri atas 44 bab dan 72 hadits
Juz ketiga ditahqiq dan dita’liq oleh Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi’ yang olehnya juz dibagi menjadi kitab kemudian kitab dirinci lagi menjadi bab.  Dalam juz itu dibagi menjadi sembilan kitab yaitu :
1.      Kitab Zakat terdiri atas 38 bab dan 73 hadits
2.      Kitab Siyam terdiri dari 83 bab dan 126 hadits
3.      Kitab Hajj terdiri dari 116 bab dan 15 hadits
4.      Kitab Janazah terdiri dari 76 bab dan 144 hadits
5.      Kitab Nikah terdiri dari 43 bab dan 65 hadits
6.      Kitab Rada’ terdiri dari19 bab dan 26 hadits
7.      Kitab Talaq terdiri dari 23 bab dan 30 hadits
8.      Kitab Buyu’ terdiri dari 76 bab dan 104 hadits
9.      Kitab Al-Ahkam terdiri dari 42 bab dan 58 hadits
Juz keempat ditahqiq dan di ta’liq oleh Ibrahim ‘Adwah ‘Aud yang didalamnya terdiri  dari :
1.      Kitab al-Diyat terdiri atas 23 bab dan 36 hadits
2.      Kitab al-Hudud terdiri atas 30 bab dan 40 hadits
3.      Kitab al-Said terdiri atas   7 bab dan 7 hadits
4.      Kitab al-Zabaih terdiri atas 1 bab dan 1 hadits
5.      Kitab al-Ahkam dan al-Wa’id terdiri atas 6 bab dan 10 hadits
6.      Kitab al-Dahi terdiri atas 24 bab dan 30 hadits
7.      Kitab al-Siyar terdiri atas 48 bab dan 70 hadits
8.      Kitab keutamaan jihad terdiri atas 26 bab dan 50 hadits
9.      Kitab al-Jihad terdiri atas 39 bab dan 49 hadits
10.  Kitab al-Libas terdiri atas 45 bab dan 67 hadits
11.  Kitab al-At’imah terdiri atas 48 bab dan 72 hadits
12.  Kitab al-Asyribah terdiri atas 21 bab dan 34 hadits
13.  Kitab Birr wa al-Silah terdiri atas 87 bab dan 138 hadits
14.  Kitab al-Tibb terdiri atas 35 bab dan 33 hadits
15.  Kitab al-Fara’id terdiri atas 23 bab dan 25 hadits
16.  Kitab al-Washaya terdiri atas 7 bab dan 8 hadits
17.  Kitab al-Wala’ wa al-Hibah terdiri atas 7 bab dan 7 hadits
18.  Kitab al-Fitan terdiri atas 79 bab dan 111 hadits
19.  Kitab al-Ru’ya terdiri atas 10 bab dan 16 hadits
20.  Kitab al-Syahadah terdiri atas 4 bab dan 7 hadits
21.  Kitab al-Zuhd terdiri atas 64 bab dan 110 hadits
22.  Kitab sifat al-Qiyamah, al-Raqa’iq dan al-Wara’ terdiri atas 60 bab dan 110 hadits
23.  Kitab sifat al-Jannah terdiri atas 27 bab dan 45 hadits
24.  Kitab sifat Jahannam terdiri atas 13 bab dan 21 hadits
Juz kelima terdiri dari 10 pembahasan, ditambahsatu bahasan tentang i’lal dan ditahqiq oleh Ibrahim ‘Adwah ‘Aud, antara lain:
1.      Al-Imam terdiri atas 18 bab dan 31 hadits
2.      Al-‘Ilm terdiri atas 19 bab dan 31 hadits
3.      Isti’zan terdiri atas 34 bab dan 43 hadits
4.      Al-Adab terdiri atas 75 bab dan 118 hadits
5.      Al-Nisa terdiri atas 7 bab dan 11 hadits
6.      Fada’il al-Qur’an terdiri atas 25 bab dan 41 hadits
7.      Kitab al-Qira’at terdiri atas 13 bab dan 18 hadits
8.      Kitab Tafsir al-Qur’an terdiri atas 95 bab dan 158 hadits
9.      Kitab Al-Dawa’at terdiri atas 133 bab dan 189 hadits
10.  Kitab al-Manaqib terdiri atas 75 bab dan 133 hadits
11.  Kitab al-‘Ilal dijelaskan panjang lebar pada beberapa sub bab.

E.     Kualitas Hadits kitab al-Jami’ al-Sahih
Kitab ini banyak  memuat hadits-hadits hasan. Namun,para ulama, guru dan murid al-Tirmidzi sendiri berbeda pendapat mengenai hadits hasan ini karena al-Tirmidzi sendiri tidak secara gamblang memberikan definisi terhadap hadits hasan ini. Beliau malah menggabungkan isitilah hadits hasan dengan istilah yang beragam seperti hadits hasan sahih, hasan garib, dan hasan sahih garib.
Abu Isa menjelaskan yang dimaksud dengan hadits hasan ialah hadits yang banyak jalannya, perawinya tidak dicurigai berdusta, dan tidak syaz.
Dilihat dari kuantitatif dan kualitatif nilai hadis dari kitab Sunan al- Tirmidzi yang berjumlah 3.954 buah hadis, sebagai berikut:

1.      Hadis shahih                                  158 buah      =          4 %
2.      Hasan shahih                               1.454 buah      =          36 %
3.      Shahih gharib                                     8 buah      =          0,2 %
4.      Hasan shahih gharib                        254 buah     =          6 %
5.      Hasan                                              705 buah     =          18 %
6.      Hasan gharib                                   571 buah     =          14 %
7.      Gharib                                             412 buah     =          10 %
8.      Dhaif                                                 73 buah     =          2 %
9.      Tidak dinilai dengan jelas                 344 buah   =          7,8 %

Secara rinci derajad hadis setiap juz dapat dijelaskan sebagai berikut:

No
Kriteria Hadis
Juz 1
Juz 2
Juz 3
Juz 4
Jus 5
Total
1.
Shahih
31
20
31
34
42
138
2.
Hasan Shahih
113
191
389
278
458
1454
3.
Shahih Gharib
-
-
-
2
6
8
4.
Hasan shahih Gharib
8
13
23
67
143
254
5.
Hasan
21
52
72
414
146
705
6.
Hasan Gharib
13
31
79
175
273
571
7.
Gharib
10
26
48
158
170
412
8.
Dha’if
10
38
110
54
111
344
9.
Tidak dinilai dengan jelas
31
38
110
54
111
344

Total
237
379
769
1220
1351
3936



     F.      Contoh hadits dalam kitab Sunan Tirmidzi
كتاب الطهارة
باب ما جاءلا تقبل صلاة بغير طهور
حدثنا قتيبة ابن سعيد عن سماك بن حرابح وحد ثناهناد, حدثنا وكيع, عن إسرائيل, عن سما ك, عن مسعب بن سعد,عن إبن عمر, عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:"لا تقبل صلا ة بغير طهور ولا صدقة من غلول", قال هنان في حديثه" الا بطهور" قال ابو عيسى  هذاالحديث اصح من شيئ في هذا الباب واحسن, وفي الباب عن المليح عن ابيه وابي هريرة وانس, وابو المليح ابن أسمة إسمه عا مر و يقا ل زيد ابن أسمة ابن عمير الهذلي
     G.    Pendapat para Ulama
Al-Hafidz Ibn Asir mengatakan bahwa kitab al-Tirmidzi adalah kitab sahih, juga sebaik-baik kitab, banyak kegunaannya, baik sistematika penyajian dan sedikit sekali hadits-hadits yang terulang. Didalamnya dijelaskan juga hadits-hadits yang menjadi amalan suatu mazhab disertai argumentasinya. Lalu al-Tirmidzi juga menjelaskan kualitas hadits, yaitu sahih, saqim, dan garib. Dalam kitab tersebut juga dikemukakan kelemahan dan keutamaan (al-Jarh wa al-Ta’dil) para perawi hadits.
Sementara Abu Isma’il al-Harawi berpendapat bahwa kitab al-Tirmidzi lebih banyak memberikan faedah daripada kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslimkarena hadits yang termuat didalamnya diterangkan kualitasnya sehingga orang-orang lebih mudah dalam mengambil faedah kitab itu, baik dari kalangan fuqaha’, muhaddisin, dan lainnya.
Al-‘Allamah al-Syaikh ‘Abd al-‘Aziz berpendapat bahwa kitab al-Jami’al-Sahih al-Tirmidzi adalah kitab yang terbaik sebab sistematika penulisannya baik, yaitu sedikit hadits-hadits yang berulang, diterangkan mengenai mazhab-mazhab fuqaha’ serta cara istidlal yang mereka tempuh,dijelaskan kualitas haditsnya dan disebutkan nama-nama perawi baik gelar maupun kunyahnya.
Seorang orientalis Jerman, Brockelman menyatakan ada sekitar 40  hadits yang tidak diketahui secara pasti hadits tersebut termasuk hadits Abi Isa al-Tirmidzi. Ada dugaankeras bahwa kumpulan hadits itu adalah al-Fiqh atau al-Tarikh, tetapi masih diragukan.
Ignaz Goldziher mengutip pendapat al-Zahabi memuji kitab al-Jami’ al-Sahih dengan memberikan penjelasan bahwa kitab ini terdapat perubahan penetapan isnad hadits, meskipun tidak dijelaskan secara rinci tapi hanya garis besarnya saja.
Ulama yang memberikan kritik terhadap kitab al-Jami’ al-Sahih ini yaitu al-Hafidz ibn al-Jauzi, beliau mengemukakan bahwa dalam kitab ini terdapat 30 hadits maudu’/palsu, meskipun akhirnya pendapat tersebut dibantah oleh Jalaludin al-Suyuti dengan mengemukakan bahwa hadits-hadits yang dinilai palsu tersebut sebenarnya bukan palsu, sebagimana hadits yang terdapat dalam kitab Sahih Muslim yang dinilainya palsu, namun ternyata bukan palsu. Dikalangan mayoritas ulama beliau memang terkenal terlalu tasahhul (mudah) dalam menilai hadits sebagai hadits palsu.Baca juga artikel tentang Hadits tentang Khatamun Nabiyyin

Sumber : Suryadi dkk, Studi Kitab Hadits, Yogyakarta : TERAS, 2009

Saya Adalah Hamba Allah yang senantiasa berlindung kepada Allah menjahui segala laranganya dan menjalankan segala perintahnya.


EmoticonEmoticon